Dokter Juga Manusia
Rp75.000

Penulis: Wawan Mulyawan

ISBN: XXXXXXXX

Ukuran: 14.8 X 21 CM

Halaman: 175

Tahun Terbit: 2026

Buku ini lahir dari kegelisahan, bukan hanya dari kebanggaan.

 

 

Saya seorang dokter. Saya telah menjadi dokter selama lebih dari tiga puluh tahun, melewati berbagai peran klinisi, pendidik, perwira militer, administrator, aktifis organisasi sosial, dan apa pun jabatan yang pernah diamanahkan kepada saya. Tapi di balik semua itu, saya tetap seorang dokter yang paham betul betapa lelahnya mempertahankan  kepercayaan   dari pasien, dari masyarakat, dari pejabat dan wakil rakyat yang mengatur profesi ini, dan kadang kala dari diri sendiri.

 

Ada berbagai keraguan yang tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dan saya tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya.

 

Sebagian masyarakat mulai memandang dokter dengan curiga. Mereka melihat kasus-kasus di mana dokter tampak lebih memikirkan tarif daripada pasien, lebih sibuk dengan prosedur administratif  daripada kebutuhan manusia yang duduk di depan mejanya. Kecurigaan itu tidak selalu salah — karena muncul oknum oknum yang memberi alasan bagi kecurigaan itu. Saya tidak akan membantahnya.

 

Tapi yang menyakitkan  adalah ketika kecurigaan  itu digeneralisasi. Ketika satu atau beberapa orang yang mengatasnamakan   profesi inberperilaku buruk, kemudian menjadi alasan untuk mendiskreditkan seluruh  dokter yang sekian lama profesinya  dimuliakan  masyarakatnya. Ketika kebijakan dibuat bukan untuk memperkuat   sistem pelayanan, melainkan justru untuk memangkas independensi keputusan klinis dokter, membatasi ruang pertimbangannya, memperlakukannya seakan ia adalah potensi ancaman yang perlu diawasi bukan mitra yang perlu dipercaya.

 

Saya, dengan segala keterbatasan saya,  merasa sudah berupaya membela profesi ini. Ke dalam kepada sesama dokter yang mulai bertanya apakah pekerjaan ini masih sepadan  dengan harga yang harus dibayarwaktu, kesehatan, keluarga,  kadang keselamatan  jiwa sendiri. 


Kepada publik, kepada pembuat  kebijakan,  kepada siapapun  yang mau mendengar. Saya menulis artikel, berbicara di diskusi, mimbar bebas dan akademik, duduk di meja menemui pejabat dan wakil rakyat rasanya belum juga memberi hasil yang cukup memuaskan.

 

Tapi saya sadar bahwa argumen dan data tidak selalu sampai ke hati. Orang lebih mudah berubah  pikiran ketika mereka merasakan  sesuatu, bukan hanya karena mengerti .

Belum Ada
Share
Hubungi Kami

Press ESC to close