Buku ini lahir
dari kegelisahan, bukan hanya dari kebanggaan.
Saya seorang dokter. Saya telah menjadi dokter
selama lebih dari tiga puluh tahun, melewati berbagai peran —
klinisi, pendidik, perwira militer,
administrator, aktifis organisasi sosial, dan apa pun jabatan yang pernah
diamanahkan kepada saya. Tapi di balik semua itu, saya tetap seorang dokter yang paham betul betapa lelahnya
mempertahankan kepercayaan — dari pasien, dari masyarakat, dari
pejabat dan wakil rakyat yang mengatur profesi ini, dan kadang kala dari diri sendiri.
Ada berbagai keraguan yang tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dan saya tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya.
Sebagian masyarakat mulai
memandang dokter dengan curiga. Mereka melihat kasus-kasus di mana dokter tampak lebih memikirkan tarif daripada pasien, lebih sibuk dengan prosedur administratif
daripada
kebutuhan manusia yang duduk di
depan mejanya. Kecurigaan itu tidak selalu salah —
karena muncul oknum – oknum yang memberi alasan bagi kecurigaan itu. Saya tidak akan membantahnya.
Tapi yang menyakitkan adalah ketika kecurigaan itu digeneralisasi. Ketika satu atau beberapa orang yang mengatasnamakan profesi ini berperilaku buruk, kemudian menjadi alasan untuk mendiskreditkan seluruh dokter yang sekian lama profesinya dimuliakan masyarakatnya. Ketika kebijakan dibuat bukan untuk memperkuat sistem pelayanan, melainkan justru untuk memangkas independensi keputusan klinis dokter, membatasi ruang pertimbangannya, memperlakukannya seakan ia adalah potensi ancaman yang perlu diawasi — bukan mitra yang perlu dipercaya.
Saya, dengan segala keterbatasan saya, merasa sudah berupaya membela profesi ini. Ke dalam — kepada sesama dokter yang mulai bertanya apakah pekerjaan ini masih sepadan dengan harga yang harus dibayar: waktu, kesehatan, keluarga, kadang keselamatan jiwa sendiri.
Kepada publik, kepada pembuat kebijakan, kepada siapapun
yang mau mendengar. Saya menulis artikel, berbicara di diskusi, mimbar bebas dan
akademik, duduk di meja menemui pejabat dan wakil rakyat – rasanya belum juga memberi hasil yang cukup memuaskan.
Tapi saya sadar bahwa argumen dan data tidak selalu sampai ke hati. Orang lebih mudah berubah pikiran ketika mereka merasakan sesuatu, bukan hanya karena mengerti .
