Tak ada guru atau murid sejati. Semua bisa menjadi guru.
Semua bisa menjadi murid. Pesan HOS Tjokroaminoto, tokoh besar pergerakan
Indonesia, masih terngiang, ”Setiap tempat bisa menjadi sekolah, setiap orang
bisa menjadi guru.”
Ada hari-hari di Amerika, saat mereka mulai kembali belajar lagi. Bahkan saat itu ada sebuah tayangan yang suggestive di US: ”If Japan can, why can’t we?” sebuah program NBC untuk menggali rahasia keunggulan Jepang, agar negara Paman Sam itu kembali berjaya.
Dalam skala individu, entah berapa kali kita menyaksikan kompetisi antara Ronaldo dengan Messi, atau melihat kerapnya Sinner bertemu Alcaraz di babak final pertandingan tennis.
Serta berderet kompetisi di level organisasi, teknologi, bisnis, ekonomi, bahkan para ulama yang saling berlomba untuk saling melampaui satu sama lain, sebagaimana Imam Ibnu Hajar yang berupaya memiliki hafalan lebih banyak dari Imam Adz Dzahabi.
It’s not about winning or losing a competition. It’s about learning and growing: Mengalahkan rasa malas, ego, serta kebiasaan buruk diri sendiri yang kerap kita tumbuh -suburkan. Prinsipnya: I am not in competition with anyone but myself. My goal is to improve myself continuously. Musuh kita adalah diri kita sendiri
Ini bukan buku motivasi. Buku ini tentang passion for learning. Tentang kumpulan tulisan yang isinya justru hal-hal sedih dan haru. Atau hal-hal yang menghibur dan menyenangkan. Sebagian isinya sedikit serius & ilmiah, di bagian lain justru terasa humor & santainya. Keyword-nya : Belajar dan bertumbuh.
Tulisan-tulisan pada buku ini agak terasa emotional buat saya, karena lembar-lembar di dalamnya adalah saksi perjuangan, pelipur lara, jatuh bangun, refleksi bahkan curhatan. Dari dag-dig-dug sampai gedebak-gedebuk. Semua saya tulis dan simpan selama belasan tahun.
Juga terasa intelektual bagi saya, karena dalam bertahun-tahun proses penulisannya, ia menjadi teman belajar, mengkaji, dan bertumbuh. Menemani berjilid buku yang saya lampaui dan jutaan pengalaman yang saya tabraki.
Tidak ada pretensi untuk merubah dunia, atau merubah Indonesia lewat buku ini. Apalagi merubah Anda. Melainkan merubah diri saya sendiri --yang sering banyak jatuhnya daripada bangunnya. Yang lebih banyak bodohnya, dibanding pintarnya. “Everyone thinks of changing the world,” kata Leo Tolstoy, “but no one thinks of changing himself.”
Guru saya menasihati : Jangan sekedar GO through life. Tapi GROW through life. Atau dalam bahasa Imam Hasan Al Basri rahimahullah : ’Kita adalah kumpulan hari-hari. Jika berlalu separuh hari. Hilang sudah sepotong diri.” Implikasinya, sembil berkejaran dengan waktu, kita mesti terus bertumbuh
Singkat harapan saya, semoga buku ini bisa menjadi teman perjalanan Anda, teman bekerja, berpikir, mengetik, berjualan, olahraga, sampai tidur dan bangun kembali, atau bahkan teman Anda bermain -– hal yang mungkin sudah terlalu lama tidak Anda rasakan karena berjibaku dihempas hidup.
Selamat membaca. Learn everything you can, anytime you
can, and from anyone you can, lalu dalam proses membaca buku ini, teruslah
berupaya untuk bertumbuh, dengan fun, enjoy dan bahagia.
